BATU DINDING KILOTIGA
Bagi para pecinta alam sulawesi utara pasti sudah tidak asing lagi dengan tebing alam yang lebih dikenal dengan nama BATU DINDING KILOTIGA. Tebing ini mulai dikenal sejak ditemukan oleh para pecinta alam dari Apostolos Theologia UKIT pada thn 1987. Pada saat itu mereka sedang mengadakan kegiatan menjelajahi aliran
sungai Ranoyapo. Dengan kegiatan tersebut beberapa pecinta alam sengaja memperhatikan tebing yang menjulang tinggi dan tampak belum tersentuh. Pada saat itu mereka lansung melakukan survei ke tebing tersebut, dengan peralatan sederhana dan modal nyali mereka membersihkan tebing tersebut dari tanah, tanaman dan kayu yang merambat dan menempel pada tebing tersebut. Kegiatan ini memakan waktu selama tiga hari, namun untuk bisa naik pada saat itu masih memiliki banyak masalah karena kurangnya peralatan dan pengalaman memanjat tebing.
Barulah pada tahun 1988 Mt. Eiger Climbing Tekniques bersama anggota pelatihan pecinta alam Apostolos dengan Cristianto Pincu Muntu dan Frangky Kengkang dan rekan datang ke tebing tersebut. Setelah teknik dan fabrikasi pendakian di jalur tebing dapat dikontrol merekapun kembali ke jalur tebing 3 amurang untuk membuka pertama kalinya. Jalur pertama disebut jalur laba2 karena pada saat itu banyak jaring laba2 yang harus dibersihkan. Jalur kedua disebut jalur ofu (lebah) karena banyaknya sarang ofu.Jalur ketiga disebut jalur anjing karena si pembuat jalur disebut anjing pada saat itu.
Pada tahun 1990-an sampai larut malam. Nimrot dan Ronald Pangemanan bergabung di garis manufaktur dan membuat jalur yang disebut ikan teri karena pada saat mereka bertahan hidup hanya makan ikan, meskipun mereka sudah memiliki junior yang menyediakan peralatan dan kebutuhan para senior.
Jalur memanjat BATU DINDING :
- Jalur Ofu
- Jalur Ratapan dan Malaria
- Spider Baris
- Jalur murung
- Jalur Tragedi
- Jalur Teri
- Dan ekspedisi 24 Jalu



Komentar
Posting Komentar